Notifikasi

Yang dimaksud belajar tanpa guru

Penjelasan :

Syech Abu Yazid Al-Busthami berkata: “Siapa saja yang tidak memiliki guru, maka gurunya itu adalah setan.”¹

Bagi seorang mubtadi' (pemula) didalam menuntut ilmu, ia harus memiliki seorang guru untuk belajar darinya satu atau beberapa fan ilmu. Ketika ia telah menguasai dasar-dasar didalam ilmu tersebut, ia tentu boleh untuk mengembangkan ilmunya dengan belajar sendiri tanpa harus dibimbing oleh seorang guru.

Ibarat anak kecil yang di masa kecilnya dirinya memang harus dituntun saat mulai pertama kali berjalan, namun bukan berarti anak tersebut harus dituntun terus-terusan sampai menginjak usia dewasanya. Bila hal itu terus dilakukan, justru akan membuat anak tersebut lemah dan tidak akan berkembang.

Imam Suyuthi berkata: “Ijazah dari seorang guru tidaklah menjadi syarat didalam kebolehan membaca dan mengambil manfaat dari sebuah buku. Siapa saja yang yakin terhadap dirinya bahwa ia termasuk orang yang ahli, maka boleh baginya membaca juga mengambil manfaat dari buku tersebut, meskipun tidak mendapatkan ijazah dari seorang pun. Ini merupakan pendapat ulama salaf dan orang-orang shalih terdahulu.”²

Ijazah (definisi pertama) adalah surat tanda tamat belajar, atau (definisi kedua) izin yang diberikan oleh guru kepada muridnya untuk mengajarkan ilmu yang diperoleh si murid dari gurunya.³

Adapun yang dikehendaki kata ijazah yang ada didalam perkataan Imam Suyuthi sebelumnya adalah definisi yang kedua.

Alhasil, tidak semua keseluruhan ilmu itu harus dipelajari dari bimbingan seorang guru. Ketika seseorang itu memiliki kemampuan dan keahlian didalam satu bidang ilmu, tentu diperbolehkan bahkan sangat dianjurkan baginya untuk mengembangkan ilmunya dengan mempelajari beberapa buku ilmiyah yang sesuai dengan fan ilmu yang telah ia kuasai.

¹ 𝖱𝗎𝗁 𝖺𝗅-𝖡𝖺𝗒𝖺𝗇 𝖵/264
وقالوا كل من لم يكن له أستاذ يصله بسلسلة الاتباع ويكشف عن قلبه القناع فهو فى هذا الشأن لقيط لا اب له دعى لا نسب له انتهى ومن كلام ابى يزيد البسطامي قدس سره من لم يكن له شيخ فشيخه الشيطان. [إسماعيل حقي ,روح البيان ,٥/٢٦٤]

² 𝖠𝗅-𝖨𝗍𝗊𝖺𝗇 𝖿𝗂 𝖴𝗅𝗎𝗆 𝖺𝗅-𝖰𝗎𝗋'𝖺𝗇 𝖨/355
الْإِجَازَةُ مِنَ الشَّيْخِ غَيْرُ شَرْطٍ فِي جَوَازِ التَّصَدِّي لِلْإِقْرَاءِ وَالْإِفَادَةِ فَمَنْ عَلِمَ مِنْ نَفْسِهِ الْأَهْلِيَّةَ جَازَ لَهُ ذَلِكَ وَإِنْ لَمْ يُجِزْهُ أَحَدٌ وَعَلَى ذَلِكَ السَّلَفُ الْأَوَّلُونَ وَالصَّدْرُ الصَّالِحُ وَكَذَلِكَ فِي كُلِّ عِلْمٍ وَفِي الْإِقْرَاءِ وَالْإِفْتَاءِ خِلَافًا لِمَا يَتَوَهَّمُهُ الْأَغْبِيَاءُ مِنِ اعْتِقَادِ كَوْنِهَا شَرْطًا. وَإِنَّمَا اصْطَلَحَ النَّاسُ عَلَى الْإِجَازَةِ لِأَنَّ أَهْلِيَّةَ الشَّخْصِ لَا يَعْلَمُهَا غَالِبًا مَنْ يُرِيدُ الْأَخْذَ عَنْهُ مِنَ الْمُبْتَدِئِينَ وَنَحْوِهِمْ لِقُصُورِ مَقَامِهِمْ عَنْ ذَلِكَ وَالْبَحْثُ عَنِ الْأَهْلِيَّةِ قَبْلَ الْأَخْذِ شَرْطٌ فَجُعِلَتِ الْإِجَازَةُ كَالشَّهَادَةِ مِنَ الشَّيْخِ لِلْمُجَازِ بِالْأَهْلِيَّةِ. [السيوطي، الإتقان في علوم القرآن، ٣٥٥/١]

³ 𝖪𝖺𝗆𝗎𝗌 𝖡𝖾𝗌𝖺𝗋 𝖡𝖺𝗁𝖺𝗌𝖺 𝖨𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺
Sekian, semoga bermanfaat.
Perhatian - Ucapakan “qobiltu” di kolom komentar jika ada suatu amalan yang ingin diamalkan.
Gabung dalam percakapan
Posting Komentar
Tautan disalin ke papan klip!